Dunia internasional saat ini mengalami gejolak dan transformasi yang signifikan. Hal ini tercermin dalam pidato pembukaan oleh Dino Patti Djalal pada acara Conference of Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2025. Djalal mengungkapkan pandangannya tentang bagaimana tatanan dunia yang selama ini menjadi landasan stabilitas global, kini menghadapi tantangan besar. Institusi global yang seharusnya menjaga harmoni internasional ditemukan gagal berfungsi efektif. Akibatnya, dunia pun memasuki era baru yang penuh dengan ketidakpastian dan berpotensi mengguncang fondasi peradaban internasional.
Pergeseran Kekuatan Geo-Politik
Pergeseran geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan tatanan dunia tengah runtuh. Dinamika ini ditandai dengan munculnya negara-negara adikuasa baru, sementara kekuatan tradisional mulai kehilangan dominasi. Dalam barisan negara-negara yang sedang tumbuh ini, beberapa diantaranya menunjukkan kebijakan luar negeri yang lebih agresif dan protektif. Hal ini tentu saja menimbulkan gesekan dengan usaha mempertahankan pengaruh oleh negara maju yang lebih dulu mendominasi percaturan internasional.
Institusi Global Menuai Kritik
Menurut Djalal, melemahnya kepercayaan terhadap institusi global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Perdagangan Dunia adalah masalah yang tidak bisa diabaikan. Institusi-institusi ini, yang dibentuk untuk menjadi pilar kedamaian dan kerjasama internasional, seringkali justru dinilai tidak tanggap dalam menghadapi konflik atau ketidakadilan yang muncul. Akibatnya, negara-negara semakin menjalankan kebijakan unilateral, yang pada akhirnya menambah rentetan ketidakpastian di panggung global.
Teknologi dan Disinformasi
Kemajuan teknologi, meski membawa banyak manfaat, juga berkontribusi pada tantangan baru bagi dunia internasional. Penyebaran informasi yang cepat dan seringkali tanpa verifikasi ketat menjadikan disinformasi lebih mengancam daripada sebelumnya. Kampanye politik digital dan perang siber menambah dimensi baru pada konflik internasional, di mana retorika kebohongan dapat memicu ketegangan antarnegara. Masyarakat global membutuhkan mekanisme baru untuk menyaring arus informasi yang kredibel, demi menjaga ketertiban dunia.
Ekonomi Dunia di Ujung Tanduk
Perlambatan ekonomi juga memainkan peran penting dalam era ketidakpastian saat ini. Ketidakstabilan politik berimbas pada pasar global, mempengaruhi perdagangan internasional dan investasi. Ketika ketegangan dagang meningkat, negara-negara cenderung mengamankan kepentingan mereka sendiri, yang pada gilirannya mengancam perjanjian ekonomi internasional dan memicu resesi global. Dunia perlu mengeksplorasi cara-cara baru untuk meningkatkan kerjasama ekonomi agar dapat lebih cepat pulih dari goncangan ekonomi.
Isu Lingkungan Menciptakan Darurat Baru
Tantangan lingkungan yang semakin mendesak tidak dapat dikesampingkan dalam diskusi tentang ketidakstabilan global. Perubahan iklim dan bencana alam yang meningkat merupakan ancaman nyata bagi semua negara. Persetujuan lingkungan internasional sering mengalami kebuntuan akibat perbedaan kepentingan nasional. Ini menunjukkan bahwa, selain bekerja sama dalam aspek politik dan ekonomi, negara-negara juga harus bersatu dalam menerapkan kebijakan jauh ke depan untuk menangani krisis lingkungan.
Kesimpulan: Memandang Masa Depan
Masa depan dunia tampaknya dihadapkan pada periode tantangan monumental. Analis percaya bahwa penguatan kembali institusi global melalui reformasi mendasar dan adaptasi terhadap perubahan zaman adalah kunci untuk mengatasi ketidakpastian. Selain itu, penting bagi masyarakat internasional untuk membangun sistem yang toleran terhadap keragaman pandangan dan menerapkan pendekatan multilateral yang inovatif. Jika tidak, dunia berisiko mengalami periode turbulensi yang lebih buruk. Dengan demikian, kolaborasi global yang lebih erat dan komitmen terhadap stabilitas dapat menjadi jalan keluar dari situasi saat ini.
