Di era digital saat ini, berbagi kegiatan sehari-hari di media sosial seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan banyak orang. Namun, ada pula yang memilih jalur berbeda, seperti yang dilakukan oleh aktris Malaysia, Tiz Zaqyah. Pada usia 37 tahun, Tiz memilih untuk lebih selektif dalam membagikan informasi pribadi di dunia maya. Keputusan ini, seperti yang diungkapkannya baru-baru ini, didorong oleh keinginannya untuk menghindari ‘penyakit ain’.
Memahami Penyakit Ain
Penyakit ain adalah istilah yang merujuk pada fenomena mata iri atau pandangan buruk yang dipercayai oleh sebagian orang dapat membawa dampak negatif, bahkan sial, bagi kehidupan seseorang. Di berbagai budaya, termasuk dalam konteks masyarakat Melayu, pandangan atau niat jahat dari orang lain dianggap memiliki kekuatan untuk mempengaruhi nasib seseorang. Kekhawatiran ini telah mendorong Tiz Zaqyah untuk membatasi seberapa banyak dia berbagi tentang kehidupan pribadinya, terutama mengenai hubungan asmaranya dengan Nas Amer.
Kehidupan Pribadi yang Dijaga
Dalam keterangannya, Tiz mengungkapkan jika dirinya sangat menyadari akan keberadaan penyakit ain. Sebagai seorang publik figur, ia percaya bahwa terlalu banyak mengumbar kehidupan pribadi dapat mengundang perhatian yang tidak diinginkan dari pihak yang mungkin tidak menyukainya. “Lagipun saya belum ada berita baik,” ujarnya, menekankan bahwa fokus utamanya saat ini bukanlah untuk merubah status hubungannya yang saat ini masih menjadi misteri bagi publik.
Dampak Sosial Media pada Privasi
Sosial media, meski menjadi alat yang kuat untuk berkomunikasi, sering kali membawa tantangan tersendiri bagi para selebritas. Semua mata tertuju pada mereka dan setiap langkah yang mereka ambil kerap kali dikritisi oleh publik. Privasi, yang dulu dianggap sebagai hak dasar setiap individu, menjadi barang mewah bagi banyak selebritas di era ini. Keputusan Tiz untuk menjaga kehidupan pribadinya dari sorotan media massa merupakan strategi untuk tetap memiliki ruang pribadi di tengah gemerlapnya dunia hiburan.
Fenomena Selektivitas Berbagi
Langkah Tiz Zaqyah ini mungkin dapat diambil sebagai contoh oleh banyak orang, bukan hanya selebritas. Memahami jenis informasi yang layak dibagikan kepada publik dan mana yang perlu dijaga untuk diri sendiri merupakan sebuah kebijaksanaan di zaman yang serba terbuka ini. Media sosial memang memungkinkan terhubungnya seseorang dengan dunia luas, namun pada saat yang sama, juga memberikan kesempatan bagi pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk mengusik kehidupan pribadi orang lain.
Bertahan di Tengah Tantangan
Keberadaan penyakit ain yang diyakini membawa ketidakberuntungan adalah manifestasi dari kekhawatiran manusia terhadap pengaruh eksternal. Dengan menjaga informasi pribadi, Tiz berharap bisa lebih fokus pada kehidupan profesional dan menjaga hubungan interpersonalnya dari kemungkinan dampak negatif. Pendekatan ini juga dapat mendemonstrasikan kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan yang dihadirkan oleh zaman modern.
Kesimpulan
Keputusan Tiz Zaqyah untuk tidak berlebihan dalam berbagi kehidupan pribadinya secara online memberikan kita pelajaran penting tentang bagaimana menata batas antara yang publik dan privat. Menghindari penyakit ain tak hanya sekadar percaya takhayul; itu juga tentang memahami bahwa tidak setiap informasi harus dikonsumsi oleh publik. Di tengah dunia yang serba instan ini, menjaga diri dan hubungan kita tetap aman dari pandangan jahat adalah langkah preventif yang bijaksana.
